Senin, 10 Oktober 2011

Pesawat Produksi Indonesia ( Bagian 2 )

5. Pesawat N-219 
Terbang perdana Maret 2010


 N-219 adalah pesawat generasi baru, yang dirancang oleh Dirgantara Indonesia dengan multi sejati multi misi dan tujuan di daerah-daerah terpencil. N-219 menggabungkan teknologi sistem pesawat yang paling modern dan canggih dengan mencoba dan terbukti semua logam konstruksi pesawat terbang. N-219 memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dan pintu fleksibel efisiensi sistem yang akan digunakan dalam misi multi
transportasi penumpang dan kargo. N-219 akan melakukan uji terbang di laboratorium uji terowongan angin pada bulan Maret 2010 nanti. Pesawat N219 baru akan bisa diserahkan kepada kostumer pertamanya untuk diterbangkan sekira tiga tahun atau empat tahun lagi. N-219 merupakan pengembangan dari NC-212.
Fitur Utama : Multi Purpose, dapat dikonfigurasi ulang, 19 Penumpang, tiga sejajar, Campuran kargo penumpang, Kinerja STOL, Biaya operasional rendah.
  • Kecepatan jelajah maksimum: 213 KTS (395 km / jam)
  • Economical cruise speed: 190 KTS (352 km / jam)
  • Maksimum feri kisaran: 1.580 Nm
  • Take-off jarak (35 ft halangan): 465 m, ISA, SL
  • Landing jarak (50 ft halangan): 510 m, ISA, SL
  • Kecepatan stall: 73 KTS
  • Maximum take-off weight: 7.270 kg (16,000 lbs)
  • Maksimum payload: 2.500 kg (5.511 lb)
  • Tingkat panjat 2.300 ft / min semua operasi mesin
  • Range: 600 Nm







6. Pesawat CN-235
Terbang Perdana tahun 1983
CN-235 adalah sebuah pesawat angkut turboprop kelas menengah bermesin dua. Pesawat ini dirancang bersama antara IPTN Indonesia dan CASA Spanyol. Pesawat ini saat ini menjadi pesawat paling sukses pemasarannya dikelasnya.
Versi militer yang banyak diminati negara asing


7. Pesawat NC-212
Terbang perdana 26 Maret 1971
NC-212 Aviocar adalah sebuah pesawat berukuran sedang bermesin turboprop yang dirancang dan diproduksi di Spanyol untuk kegunaan sipil dan militer. Pesawat jenis ini juga telah diproduksi di Indonesia di bawah lisensi oleh PT. Dirgantara Indonesia. Bahkan pada bulan Januari 2008, EADS CASA memutuskan untuk memindahkan seluruh fasilitas produksi C-212 ke PT. Dirgantara Indonesia di Bandung. PT. Dirgantara Indonesia adalah satu-satunya perusahaan pesawat yang mempunyai lisensi untuk membuat pesawat jenis ini di luar pabrik pembuat utamanya.


 8. Pesawat N-250 "GATOTKACA"
Terbang perdana 10 Agustus 1995
N-250 adalah pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN atau PT. DI sekarang. Menggunakan kode N yang berarti Nusantara menunjukkan bahwa desain, produksi dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia atau bahkan Nurtanio, yang merupakan pendiri dan perintis industri penerbangan di Indonesia. Pesawat ini diberi nama gatotkoco (Gatotkaca).
Pesawat ini merupakan primadona IPTN dalam usaha merebut pasar di kelas 50-70 penumpang dengan keunggulan yang dimiliki di kelasnya (saat diluncurkan pada tahun 1995). Menjadi bintang pameran pada saat Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng. Namun akhirnya pesawat ini dihentikan produksinya setelah krisis ekonomi 1997. Rencananya program N-250 akan dibangun kembali oleh B.J. Habibie setelah mendapatkan persetujuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan perubahan di Indonesia yang dianggap demokratis. Namun untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan daya saing harga di pasar internasional, beberapa performa yang dimilikinya dikurangi seperti penurunan kapasitas mesin,dan direncanakan dihilangkannya Sistem fly-by wire.


9. Pesawat N-2130
Diperkenalkan 10 November 1995
N-2130 adalah pesawat jet komuter berkapasitas 80-130 penumpang rancangan asli IPTN yang sekarang bernama PT Dirgantara Indonesia. Menggunakan kode N yang berarti Nusantara menunjukkan bahwa desain, produksi dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia atau bahkan Nurtanio, yang merupakan pendiri dan perintis industri penerbangan di Indonesia
Pada 10 November 1995, Presiden Soeharto mengumumkan proyek N-2130. Soeharto mengajak rakyat Indonesia untuk menjadikan proyek N-2130 sebagai proyek nasional. N-2130 yang diperkirakan akan menelan dana dua milyar dollar AS itu, akan dibuat secara gotong-royong melalui penjualan dua juta lembar saham dengan harga pecahan 1.000 dollar AS. Untuk itu, dibentuklah perusahaan PT. Dua Satu Tiga Puluh (PT DSTP) untuk melaksanakan proyek besar ini.
Saat badai krisis moneter 1997 menerpa Indonesia, PT DSTP limbung. Setahun kemudian akibat adanya ketidakstabilan politik dan penyimpangan pendanaan, mayoritas pemegang saham melalui RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) 15 Desember 1998 meminta PT DSTP untuk melikuidasi diri. Imbasnya proyek N-2130 menjadi terbengkalai.
Beberapa prototype yang digunakan untuk pesawat komersiil sekarang :

Sumber : Wikipeia, kaskus Share

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright (c) 2010 KIRAYA and Powered by Blogger.