Rabu, 19 Oktober 2011

Arti Dan Makna Dari Beberapa Peribahasa Jawa

Tokoh wayang kulit "Prabu Kresna"
1. Digdaya Tanpa Aji, Sugih Tanpa Bandha, Menang Tanpa Ngasorake

Arti yang Tersurat
Kebal tanpa kekuatan gaib, kaya tanpa kekayaan, menang tanpa mengalahkan.
Digdaya : kebal, sakti
Tanpa : tanpa
Aji : kekuatan gaib atau benda yang dapat membuat seseorang menjadi kebal dan sakti
Sugih : kaya
Bandha : benda kekayaan
Menang : menang
Asor : kalah, takhluk
Ngasorake : menakhlukkan atau mengalahkan


Arti tersirat
Tiap orang yang memiliki keluhuran budi, pastinya memiliki kewibawaan yang tinggi. wibawa ini diibaratkan dengan kesaktian. Keluhuran budi diibaratkan dengan kekayaan yang sangat tinggi. suatu itikad atau tujuan yang baik, akan mengalahkan kejahatan. Keluhuran budi merupakan bekal hidup yang tinggi nilainya.

Nilai yang terkandung
Unen-unen ini mengandung ungkapan bahwa seseorang hendaknya senantiasa mempunyai itikad yang baik dan berbudi luhur. Sikap yang seperti ini akan sangat disenangi serta dihormati diberbagai kalangan, entah itu organisasi sosial, badan pemerintahan maupun dimana saja.   

Falsafah
Pedoman hidup yang dipegang teguh oleh masyarakat Jawa ini merupakan ajakan sikap untuk memahami makna kehidupan dengan keluhuran budi. Segala sesuatu yang tidak baik, walaupun terlihat kuat, namun pasti dapat terkalahkan. Hal ini berbeda dengan kebaikan serta keluhuran budi, walaupun tidak secara langsung, namun kebaikan pastinya akan menang. Sama halnya dengan kemarahan, sikap ini akan mudah dikalahkan oleh sikap rendah hati dan keluhuran budi.

Pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat
Ungkapan ini besar sekali pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat. Orang yang sikap dan perbuatannya tercela, akan dicemooh dan orang yang sikapnya terpuji serta baik akan dihargai orang dalam pergaulannya. Pada intinya keluhuran budi merupakan sikap yang ideal bagi orang Jawa.


2. Sugih Ngelmu Tanpa Meguru

Arti yang tersurat
Sugih : Kaya/ memperoleh banyak
Ngelmu : Ilmu
Tanpa : Tanpa
Meguru : Berguru
Arti : Kaya dalam memperoleh ilmu tanpa harus berguru

Arti yang tersirat
Orang yang mempunyai keluhuran budi adalah modal hidup yang sangat tinggi. Dengan keluhuran budi, maka kewibawaan akan semakin tinggi pula. Hal ini diibaratkan sebagai orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Keluhuran budi diibaratkan sebagai kekayaan yang sangat tinggi nilainya. Kekayaan ini bisa berujud ilmu. Keluhuran budi yang tulus dari hati seperti kekayaan yang dimiliki seperti menguasai ilmu tanpa belajar dari siapa pun (berguru).

Nilai yang terkandung
Keluhuran budi serta itikad baik, hendaknya selalu ditanamkan disetiap diri manusia. Unen-unen ini mengandung maksud dorongan serta nasehat untuk masyarakat agar senantiasa mempunyai keluhuran budi dan itikad baik. Dengan dua hal ini, maka masyarakat menilai bahwa orang yang seperti ini adalah orang yang menguasai ilmu tinggi.

Falsafah
Falsafah Jawa menyatakan bahwa keluhuran budi adalah segala-galanya. Sikap dan tindakan baik mengalahkan senjata atau kesaktian apapun juga. Orang yang memiliki itikad baik dan keluhuran budi diibaratkan telah menguasai ilmu tanpa harus mereka berguru dengan siapapun. Walau nampak sepele, penerapan kedua sikap ini ternyata berat dan mengandung konsekuensi yang tinggi.

Pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat
Unen-unen ini mempunyai pengaruh yang besar pada kehidupan masyarakat, baik itu jaman dahulu maupun masa sekarang. Keluhuran budi dan itikad baik dianggap sebagai sikap yang ideal bagi masyarakat Jawa. Ungkapan ini juga masih dijunjung tinggi dalam hal pengembangan mental masyarakat terutama generasi muda untuk menerapkan sikap kedua hal tersebut.

  

3. Ana Dina Ana Upa
Arti yang tersurat

Bahasa Indonesia : Ada hari ada nasi
Ana : ada
Dina : hari
Upa : serpihan nasi

Arti tersirat
Setiap hari akan selalu ada rejeki. Unen-unen ini mengajak bahwa seseorang tidak erlu khawatir dengan rejeki untuk diri sendiri atau keluarganya. Setiap orang ditakdirkan dengan rejeki masing-masing. Yang harus dilakukan oleh seseorang adalah berusaha mencari rejeki (upa).

Nilai Yang Terkandung
Unen-unen ini mengandung ajaran atau nasihat bahwa orang senantiasa optimis untuk menghadapi hari esok. Suatu keyakinan yang harus dipupuk adalah Tuhan bersifat Maha Pemurah, maka dari itu sebagai umat yang percaya akan Tuhan hendaknya berusaha dan selalu percaya bahwa rejeki akan ada selagi umat mau berusaha.

Falsafah
Ada suatu falsafah dari orang jawa bahwa asalkan mau berusaha, pastilah ditunjukkan jalan oleh-Nya dalam mendapatkan rejeki. Dalam kepercayaan orang Jawa, sikap pemalas sangatlah kurang terpuji. Dnegan sikap pemalas berarti menjauhkan rejeki bagi orang itu sendiri.

Pengaruhnya terhadap Kehidupan Masyarakat Modern
Ungkapan ini masih digunakan dalam kehidupan masyarakat modern dan menumbuhkan sikap yang optimis. “asal mau berusaha pasti akan mendapatkan rejeki”.
Bagi sekelompok orang yang masih melestarikan nilai budaya peninggalan nenek moyang. Ungkapan ini memunyai pengaruh yang besar untuk membesarkan hati dan membuat semangat seseorang dalam berusaha.


4. Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

Arti yang tersurat
Sepi di dalam pamrih pengharapan, ramai dalam kerja
Sepi : sepi tidak ada apa-apa atau sesuatu
Ing : di dalam
Pamrih : pamrih, pengharapan
Rame : ramai, hingar bingar
Gawe : kerja, pekerjaan

Arti yang tersirat
Setiap orang yang mau menolong orang lain dengan ikhlas tanpa mengharapkan apapun baik berupa pujian ataupun imbalan secara materi merupakan suatu prinsip atau sikap hidup orang Jawa yang sebenarnya. Jadi apabila suatu orang menolong dengan maksud memperoleh Imbalan, maka bisa dikatakan ia bersikap tercela, sikap yang tidak ikhlas tidak mendapatkan balasan dari Tuhan.

Nilai yang terkandung
Masyarakat Jawa terkenal dan identik dengan kerukunan dan sikap tolong menolong serta gotong royong bekerja sama antar satu dengan yang lain. Secara etimologis sendiri, kata gotong royong terdiri dari 2 kata yaitu gotong yang berarti menjunjung, royong yang berarti secara bersama-sama.
Sikap tolong menolong serta gotong royong dalam masyarakat di Jawa merupakan system pengikat masyarakat yang harus dipertahankan kelangsungannya. Dalam gotong royong akan sangat terlihat unsur memberi dan menerima. Alangkah baiknya apabila sikap ini tanpa ada pengharapan apapun.

Falsafah
Manusia disebut juga homo socius atau makhuk sosial. Hal ini mengandung maksud bahwa manusia selalu membutuhkan orang lain dan tidak bisa hidup sendiri. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, hidup sebagai manusia diantara manusia lain mempunyai arti yang tinggi sejauh manusia itu sadar akan kehidupan masyarakatnya. Nilai seseorang ditentukan oleh masyarakat. Nilai ini diukur dari standar norma, yaitu kepatuhan terhadap norma yang berlaku dan pemenuhan kewajibannya dalam masyarakat itu sendiri.

Pengaruhnya dalam kehidupan modern
Ungkapan ini punya pengaruh yang besar dalam masyarakat terutama dalam hal dedikasi dan partisipasi dalam aktivitas sosial.


5. Ana Sethithik Didum Sethithik, Ana Akeh Didum Akeh

a. Arti yang tersurat
Ada sedikit dibagikan sedikit, ada banyak dibagikan banyak.
Ana = ada
sethitihik = sedikit
didum = dibagikan
akeh = banyak

b. Arti yang tersirat
Jika ada rejeki sebaiknya dinikmati bersama. Jika rejeki hanya sedikit, masing-masing mendapat bagian sedikit. Tetapi jika rezeki itu itu banyak, masing-masing memperoleh bagian banyak. Dalam masyarakat harus berlaku keadilan sosial. Boleh saja terdapat orang kaya. Malahan makin banyak orang kaya akan semakin baik. Tetapi orang-orang yang miskin janganlah dibiarkan miskin. Masyarakat harus diatur sedemikian rupa sehingga kemakmuran antara warga negara yang satu dengan warga negara yang lain tidak terdapat perbedaan yang menyolok.

c. Nilai yang terkandung
Ungkapan ini mengandung nilai pendidikan ke arah kerukunan keluarga dan kerukunan masyarakat. Jika di antara anggota keluarga tidak ada yang rakus, sehingga baik rezeki yang hanya sedikit maupun rezeki yang banyak dapat dinikmati bersama dengan pembagian yang adil, semua pasti akan merasakan kebahagiaan. Juga kalau semua pekerjaan rumah tangga dapat dibagi-bagi secara adil, semua anggota keluarga akan merasa ringan. Demikian pula jika asas pemerataan dapat dilaksanakan dengan baik, maka semua anggota masyarakat akan mencapai kesejehteraan.

d. Latar belakang sejarah/ falsafah
Semua manusia adalah ciptaan Tuhan, dan semua manusia adalah sama dihadirat Tuhan. Dengan perkataan lain, Tuhan menghendaki agar setiap manusia bersikap sebagai saudara terhadap sesama manusia. Sikap rakus, sikap mau menang sendiri dan sebagainya, pendek kata semua sikap yang tidak sesuai dengan asas persaudaraan antar sesama manusia, tidak dibenarkan oleh Tuhan.

e. Pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat
Pengaruh ungkapan tersebut terhadap masyarakat dapat kita saksikan di desa-desa. Jika padi di sawah sudah sampai pada waktunya dituai, biasanya berdatanglah orang-orang yang derep atau ikut menuai. Meskipun padi yang akan dituai hanya sedikit sedang yang derep banyak, bagi si pemilik sawah tidak masalah. Baik di desa-desa maupun di kota-kota pada waktu-waktu tertentu orang mengadakan kenduri. Meskipun persediaan makanan sedikit sedang yang ikut kenduri banyak, bagi orang yang menyelenggarakan kenduri juga tidak menjadi masalah. Ada sedikit dibagikan sedikit, ada banyak dibagikan banyak.

f. Kedudukannya dalam masyarakat dewasa ini
Ungkapan tersebut masih dikenal dengan baik oleh masyarakat. Baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat sering terdengar ungkapan tersebut dipakai. Misalnya pada waktu dalam keluarga dilakukan pembagian makanan, biasanya sang ibu memberi nasihat kepada anak-anak dengan berkata: Ana sethithik didum sethithik, ana akeh didum akeh. Begitu pula dalam masyarakat, pada masa panen atau pada waktu seseorang mengadakan kenduri, prinsip yang terkandung dalam ungkapan tersebut dilaksanakan dengan baik.



6. Negara Mawa Tata, Desa Mawa Cara

Dalam suatu negara selalu memiliki peraturan, sedangkan desa memiliki adat istiadat
Negara : negara
Mawa : memakai atau memiliki
Tata : peraturan
Desa : desa
Cara : cara, kebiasaan atau adat istiadat

  a. Arti yang tersirat
Disetiap negara selalu memiliki suatu peraturan tertentu yang wajib ditaati oleh warganya. Baik itu tata pemerintahan, tata hukum bahkan tata sosial. Desa adalah bagian dari suatu negara. Dan ditiap desa inilah memiliki adat istiadat atau kebiasaan yang wajib ditaati oleh masyarakat sedesanya. Adat ini bersifat tidak mengikat dan tidak dikenakan sanksi resmi, namun apabila seseorang melanggar adat ini biasanya mereka akan dikucilkan dari pergaulan di desanya.

  b. Nilai yang terkandung
Unen-unen ini mengandung pengertian bahwa ditiap-tiap negara mempunyai peraturan yang berbeda, begitu juga ditiap-tiap desa mempunyai adat atau kebiasaan yang berbeda pula. Unen-unen ini mempunyai nilai pendidikan kearah sikap memahami serta menghargai siapapun orang yang berasal dari lain negara atau lain desa, sebab mereka mempunyai perbedaan adat dan juga peraturan. Begitu juga sebaliknya orang asing yang tinggal di suatu negara atau desa tertentu juga wajib menyesuaikan diri di lingkungannya itu.

  c. Latar belakang
Pada zaman dahulu, di Indonesia terdapat banyak negara. Sejak zaman dulu itu pula masyarakat sudah mengetahui bahwa setiap negara atau Kerajaan mempunyai peraturan sendiri-sendiri dan sebagai orang Jawa khususnya telah mengetahui bahwa ditiap-tiap bagian negara telah mempunyai adat dan tata cara sendiri.

  d. Pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat
Ungkapan ini mempunyai pengaruh yang positif pada masyarakat yaitu menyebabkan masyarakat menjadi memahami dan menghargai pergaulan terutama pergaulan antar negara atau antar daerah yang notabene mempunyai alam pikir berbeda-beda sebab terbentuk dari peraturan di tiap negaranya atau adat kebiasaan di daerahnya.

  e.Kedudukan dalam kehidupan masyarakat dewasa ini
Ungkapan ini masih dikenal dan sering diterapkan banyak orang dalam pergaulannya sehari-hari. Bagi orang tua, ungkapan ini seringdipakai sebagai nasehat untuk anaknya supaya mudah dalam menyesuaikan diri sehingga mudah pula dalam memperoleh banyak teman.






















7. GOLEK DALAN PADHANG
a. Arti yang tersurat
Mencari jalan terang
golek : mencari
dalan : jalan
padhang : terang
b. Arti yang tersirat

Mengamalkan kebaikan untuk sesama hidup
c. Nilai yang terkandung

Ungkapan ini mengandung nilai positif, yang intinya ialah menasihatkan agar kita bersikap bersedia mengamalkan perbuatan baik untuk kepentingan hidup bersama. Berbuat baik untuk orang lain bukan untuk mencari pujian, bukan mengharapkan sanjungan, melainkan dijalankan dengan tulus ikhlas, tanpa pamrih. Membina dan menggalang kerukunan, bersedia menolong orang lain yang memerlukan pertolongan dan sebagainya, merupakan perbuatan yang dapat dikelompokkan ke dalam ungkapan Golek dalan padhang.
d. Latar Belakang sejarah/falsafah

Dasar pemikiran orang Jawa mengungkapakan bahwa padhang atau pepadhang (terang atau hal terang; sumber terang) itu memudahkan segala-galanya, melancarkan segala-galanya. Segala keruwetan dapat diuraikan bila ada yang menerangi. Itulah sebabnya, maka setiap orang mencari terang, mencari hal yang dapat menerangi.
Orang yang sedang sedih mencari penghibur, dengan ungkapan Golek padhanging ati (mencari terang untuk hati). Orang yang sedang menghadapi masalah yang sangat rumit dan sukar diselesaikan, mengharapkan bantuan orang lain yang dinilai dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk memecahkan atau menyelesaikan persoalannya. Maka dia dikatakan Golek pepadhang (mencari penerang, mencari sarana untuk menjadikan terang).

Yang dimaksud dengan dalan padhang ialah segala sarana untuk memudahkan atau melancarkan terlaksananya setiap maksud. Di dalam hidup bermasyarakat, semua amal perbuatan yang baik disamakan dengan dalan padhang. Dengan menanamkan amal baik maka orang akan dapat memperoleh kemudahan dalam segala hal.

Norma-norma hidup yang dianggap tinggi nilainya, misalnya sikap rukun damai, berbuat baik kepada sesama, tidak pernah melukai hati orang lain, senang memberikan pertolongan kepada orang lain, sikap andhap-asor (rendah hati), kesemuanya itu merupakan dalan padhang.
Bagi masyarakat Jawa, pemikiran tentang hidup dan kehidupan bukan hanya terbatas kepada hidup dan kehidupan di alam fana. Bukan hanya terbatas pada hidup dan kehidupna dunia, melainkan lebih jauh lagi, sampai menjangkau ke pemikiran tentang hidup dan kehidupan di alam baka, yakni akhirat. Dalan padhang yang dirintis pada waktu hidup di dunia fana, akan membuka kemudahan di dalam menempuh hidup di dunia baka, di alam baka, yaitu akhirat.

Dasar pemikiran yang demkian inilah yang melatarbelakangi timbulnya ungkapan Golek dalan padhang. Golek dalan padhang dapat diartkan merintis jalan terang dengan tujuan merintis jalan terang di dalam kehidupan di akhirat.

e. Pengaruhnya di dalam kehidupan masyarakat
Ungkapan ini berpengaruh besar di dalam kehidupan masyarakat. Dengan adanya ungkapan ini, maka setiap anggota masyarakat merasa memililki pegangan dasar atau norma untuk mengatur tingkah lakunya selama hidup bermasyarakat. Orang yang di dalam masyarakat tidak mau rukun dengan tetangganya, tidak pernah mau bekerjasama dengan sesamanya, orang yang sikap dan tindakannya selalu menimbukan kerugian atau kesusahan orang lain, maka para tetangganya mengatakan : Ora golek dalan padhang (tidak mencari jalan terang).f. kedudukannya di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini

Ungkapan ini sampai sekarang masih tetap dihargai dan dijunjung tinggi oleh masyarakat pendukungnya.
g. Ungkapan lain yang ada hubungannya

Ngelingana Tembe Mburine, Ingatlah kelak kemudian hari
.



 
AJINING DIRI SOKO LATHI AJINING ROGO SOKO BUSONO
Bagi anda yang kebetulan terlahir sebagai orang jawa mungkin pernah mendengar kata-kata diatas atau bahkan sudah hafal diluar kepala berikut arti atau makna sebenarnya. namun bagi anda pembaca yang belum tahu artinya, maka berikut akan coba saya jelaskan secara singkat, dan semoga bermanfaat.

Ajining diri soko lathi dapat diterjemahkan secara bebas adalah harga diri seseorang ditentukan oleh tutur katanya (lathi = lidah). penilaian baik atau buruk adalah berkaitan dengan jiwa sosial kita. orang lain akan menilai kita tergantung bagaimana kita bertutur kata. jika kita sering bicara kasar, maka orang lain akan mengenal kita sebagai orang kasar, sebaliknya orang dpt mengenal kita sbg orang halus,lembut tidak berpendidikan,bodoh dan lainnya. jadi betapa pentingnya dan besar pengaruh ucapan kita thd kehidupan kita.
Sekarang kita bahas, ajining rogo soko busana (nilai penampilan seseorang tergantung dari pakaian). maksudnya adalah pakaian seseorang dapat menunjukkan status orang dimata orang lain. orang dapat dilihat sebagai orang yang rajin, malas, jorok dilihat dari penampilan orang. pernahkan anda melihat teman anda yang setiap pergi ke kantor selalu berpakaian kusut (terkesan tidak pernah disetrika), maka orang disekitarnya melihatnya sebagai kurang rajin/malas. bahkan secara tidak sadar pakaian dimasyarakat kita sudah langsung dapat menimbulkan persepsi seseorang terhadap kita. melihat orang pakaian compang-camping = pengemis/peminta2, seseorang yang berkemeja rapi dan berdasi = orang kerja kantoran/bergaji tinggi. Jadi sekarang terserah anda maunya seperti apa anda dipandang orang lain. semuanya tergantung kita. nilai anda, anda sendiri yang menciptakan dengan berpedoman prinsip ajining diri soko lathi ajining rogo busono.
Eling Sangkan Paraning Dumadhi.
Dalam pergaulan masyarakat Jawa terutama kalangan generasi tua, ungkapan yang arif ini sangat terkenal. Secara bebas diartikan sebagai ingat akan asal dan tujuan hidup. Ungkapan ini mengandung nasihat agar seseorang selalu waspada dan eling (ingat, sadar) terhadap sangkan (asal) manusia dan paran (tujuan akhir). Dengan sadar dan waspada dalam perjalanan hidupnya, ia akan mampu meredam emosi, nafsu, ikatan ikatan duniawi dan berupaya untuk bertindak lebih baik, karena ia memiliki tujuan akhir yang jelas, yaitu sowan ngarsaning Gusti (menghadap ke hadirat Tuhan). Ungkapan Eling Sangkan Paraning Dumadhi dijadikan sebagai pengendali sewaktu seseorang melakukan perbuatan negatif. Selain itu dapat juga dimanfaatkan untuk meluruskan dan membesarkan hati ketika terkena beban hidup, sakit, kekecewaan, patah hati, ketidakbahagiaan. Upaya pelurusan ini untuk penyadaran akan sangkan (asal) dan paran (tujuan) hidupnya.
 

 
sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=971016&page=4
Share

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright (c) 2010 KIRAYA and Powered by Blogger.